situs pribadi arief rahman
Tuesday, June 17, 2003
  S.A.R.S
Oleh: Arief Rahman

SEMUA yang ada di warung kopi itu terperangah. Kabar yang dibawa Wak Kempot membuat mereka risau. Ucapan gaek pensiunan pegawai negeri itu terdengar bagai petir di siang bolong. Keras, menggelagar, tapi nyaris tak masuk akal.
Kata Wak Kempot, kini SARS sudah menyebar di Riau, termasuk Pekanbaru. Bukan satu dua lagi korbannya, tapi penyakit tersebut telah merasuki berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang becak sampai pejabat, mulai dari siswa sekolah menengah hingga orang-orang tua yang sudah bengkok.
''Alah... Wak ni menyanyah aja. Dari mana pulak dapat kabar tu? Setahuku Riau ni bebas dari SARS. Sudah berkali-kali pejabat Dinas Kesehatan mengatakannya di koran. Isu tak bertanggungjawab tu, Wak,'' sergah Jang Kombet geram.
Mak Leha, pemilik warung kopi, tak kalah sinisnya menanggapi cerita Wak Kempot. ''Wak Kempot ni sok hebat. Mau mengalihkan perhatian orang Riau nampaknya. Soal SARS udah ketinggalan jaman, Wak. Perang aja udah jadi perbincangan hot lagi. Sekarang perhatian orang beralih ke Huzrin Hood. Jadi jangan bercakap juga lagi soal SARS tu Wak. Tak ado doh, SARS di Riau. Kedengaran Pak Ekmal Rusydi, bisa gawat Wak. Itu sama dengan menyebar isu tak bertanggungjawab Wak,'' sergah Mak Leha sengit.
''Aaa.. inilah kalian yang muda-muda ni. Aku ni bercakap bukan sembarang cakap. Bukan isu. Jangan kalian samakan aku dengan pejabat atau politikus yang bercakap untuk menokoh masyarakat. Aku bercakap pakai data, Bung!'' kata Wak Kempot tak kalah tangkas.
''SARS yang kucakapkan ni bukan penyakit pernafasan yang sedang heboh di luar negeri tu. SARS yang kumaksud singkatan dari Senewen Akibat Rayuan Seks,'' ujar Wak Kempot sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.
''Kalian tengoklah di Riau ni sekarang,'' Wak Kempot melanjutkan omongannya, ''Dah banyak betul orang senewen karena seks ni. Ada kepala desa yang ditangkap massa karena indehoi dengan janda, ada pula anggota Satpol PP yang pesta ganja dengan cewek malam. Bikin malu saja.''
Mendengar cakap Wak Kempot, semua yang ada di warung kopi terperangah. Sebagian menganguk-angguk setuju. ''Kalau SARS yang itu, memang betul tu Wak. Contoh yang Wak sebut tu belum seberapa tu Wak. Wak baca koran ndak, tiga hari lewat di Duri ada pemuda memperkosa budak idiot. Diseretnya budak tu ke kebun sawit, ditelanjangi lalu dihembatnya budak tu di sana. Biadab betul orang ni. Apalah daya budak idiot tu. Beberapa bulan lalu ada pula anak sekolah ,'' kata Mak Leha emosi.
''Ha..ha... Itu memang dah keterlaluan, Mak. Apalah rasanya mengerjai cewek idiot atau orang gila. Dah gatal betul barang-nya tu kurasa,'' sergah Jang Kombet terkekeh-kekeh.
''Kau jangan ketawa Jang. Jangan kau jadikan penderitaan orang sebagai olok-olok kau yang tak bermutu tu. Tersinggung aku, aku juga punya anak perempuan. Preman macam kau ni lah yang pantang nampak anak gadis. Kulihat kau pun dah mulai larak lirik si Munah, janda sebelah,'' kata Mak Leha dengan muka memerah.
''Sabar Leha... kau jangan pula cepat emosi. Yang senewen karena seks ini bukan cuma preman kayak si Jang Kombet ini aja. Tau kau ndak, di karaoke-karaoke, diskotik-diskotik tu, banyak pula orang-orang gaek sebaya kita ni begelayut dengan cewek-cewek ABG. Yang lebih memalukan lagi, banyak pula pejabat-pejabat yang punya cewek simpanan. Entah dah nikah, entah belum, yang jelas asal ada kesempatan cewek itu dipakainya,'' kata Wan Abu, suami Mak Leha, yang baru tiba di warung dan ikut pula nimbrung.
''Kok tau pula Abang? Jangan-jangan Abang ni dah kena SARS pula ya..? Dah suka pula main-main ke karaoke dan diskotik,'' ujar Mak Leha dengan nada tambah marah. Diambilnya sapu, dikejarnya Wan Abud yang baru saja mencachkan pantatnya di kursi samping Wak Kempot.
''E..e... apa kau ni, Leha. Jangan sembarang tuduh. Aku memang dah kena SARS, tapi bukan Senewen Akibat Rayuan Seks, tapi Sengsara Akibat Rini Soewandi. Gara-gara peraturan yang dikeluarkan Menteri Perdagangan tu, aku tak bisa lagi jualan pakaian PJ. Dah dua pekan kedai kita di Pasar Bawah tutup. Ntah bagaimana nasib kita nih,'' kata Wan Abud mencoba menyabarkan istrinya sambil mengumpat-umpat larangan impor pakaian bekas yang dikeluarkan Menperindag Rini Soewandi.***  
apa saja, yang penting bermanfaat

ARCHIVES
06/01/2003 - 07/01/2003 /


Powered by Blogger